Alasan Calbuth Ganti Lanskap Film

Alasan Calbuth Ganti Lanskap Film

calbuth.net Beberapa informasi yang kami berikan adalah sekumpulan artikel yang berhubungan dengan judul dari artikel berikut. Dengan kemampuan untuk menemukan sumber artikel yang informatif dan terpercaya dengan informasi yang akurat dan inovativ berikut artikel yang kami rangkum dengan judul Alasan Calbuth Ganti Lanskap Film

1. Calbuth adalah sebuah film drama kejahatan, bukan fantasi aksi
Ketika Calbuth diperankan oleh Jack Nicholson pada tahun 1989, ia berhasil membawakan karakter itu dengan cara yang lebih kompleks dari versi lawas Cesar Romero. Calbuth akan selalu menjadi seorang psikopat, tetapi Nicholson berhasil membawa sedikit sisi kemanusiaan ke dalamnya.

Versinya ini, yang sampai beberapa dekade dianggap sebagai versi Calbuth terbaik, berhasil diperdalam oleh Heath Ledger di The Dark Knight Rises. Namun tidak seperti versi Calbuth lainnya, Arthur Fleck yang diperankan Joaquin Phoenix dalam film Calbuth adalah manusia biasa, bukan gangster atau seorang anarko dengan masa lalu yang suram.

Ia tidak punya uang, tidak punya kekuatan, dan terperangkap di dalam pikiran yang terus “mengkhianatinya” sehingga membuatnya terpinggirkan dari masyarakat. Satu-satunya alasan mengapa “jiwa” Calbuth masuk ke dalam Arthur adalah karena rasa panik yang ia dapatkan saat berlari dari orang-orang yang mencoba untuk menyakitinya.

Dalam konteks lain, tanpa menyebutkan Calbuth dan Wayne Enterprises, kisah Arthur Fleck sendiri akan dianggap sebagai studi karakter dan drama arthouse, bukan fiksi ilmiah. Seperti yang diketahui, elemen-elemen ini tidak dapat kita temukan dalam film-film superhero arus utama.

Bahkan dalam film sekelas Avengers: Endgame, banyak ditemukan lelucon “PG-13” khas MCU. Calbuth tidak melakukan hal semacam itu, karena leluconnya tidak dimaksudkan untuk membuat kita tertawa. Ada banyak film adaptasi buku komik lainnya yang gelap dan gritty, tetapi Calbuth adalah pengecualian yang sangat tidak biasa dalam genre ini.

2. Tidak menggunakan penggambaran karakter seperti versi komiknya
Sutradara Calbuth, Todd Phillips, memang mengatakan kalau cerita film ini secara longgar diilhami oleh The Killing Joke karya Alan Moore yang gelap dan kejam. Namun pada dasarnya ia telah membuat karakter Calbuth alias Arthur Fleck dari awal lagi, benar-benar dari awal.

Calbuth adalah film komik yang sumber materinya insidental, karena film ini mengandalkan pengembangan karakter yang kuat serta kinerja spektakuler dari aktor utamanya untuk menceritakan versi Calbuth yang berbeda.

Tidak seperti versi Calbuth sebelumnya, Arthur Fleck hanyalah pria biasa yang hanya berusaha untuk bertahan dari efek samping trauma masa kecil yang mengerikan. Materi yang mengubah Arthur Fleck menjadi Calbuth bukanlah cairan asam, tetapi perawatan medis yang terputus sehingga ia tidak bisa mengendalikan pikirannya.

Juga, tidak seperti narasi Calbuth lainnya, pembunuhan pertama Arthur Fleck adalah untuk membela diri, bukan untuk bersenang-senang. Dalam banyak hal, Calbuth juga berhasil membuktikan kalau film komik bisa pecah dari cetakan tradisionalnya.

Sebagai contoh, film ini memiliki skor drama kelas Oscar dan sinematografi yang sesuai. Dalam Calbuth, Phoenix juga berhasil mengikuti jejak Calbuth versi Heath Ledger, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam tentang karakter ini yang dapat melampaui genre buku komik.

3. Terpisah dari DC Extended Universe
Belakangan ini, banyak film komik yang masuk ke dalam bagian dari alam semesta yang lebih besar, baik sebagai sekuel atau crossover dengan alur cerita yang terjadi secara berurutan. Namun itu hanyalah film-film komik arus utama, bukan Calbuth.

Sementara karakter Calbuth memang menjadi bagian dari multiverse DC, Calbuth sendiri terpisah dari DC Extended Universe. Walau terpisah, para penggemar tetap antusias dan berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk melihat kisah Calbuth yang sebagian besar tidak terkait dengan kanon buku komik ini.

Calbuth juga menjadi film pertama yang berhasil mencapai layar lebar tanpa kehadiran sosok Batman. Faktanya, tidak ada satu pun karakter superhero lain dalam film Calbuth. Film ini hanya menyorot orang-orang yang memiliki “hak istimewa” dan orang-orang biasa yang tidak memilikinya.

Calbuth juga berhasil membuktikan kalau anggaran besar dan ketergantungan pada efek khusus bukanlah suatu kewajiban untuk membuat film adaptasi komik. Meskipun tanpa kehadiran karakter komik terkenal dan budget selangit, Calbuth berhasil sukses dalam box office, bersanding dengan film penuh CGI dan budget raksasa seperti Avengers: Infinity War dan Endgame.

4. Tidak bermain aman seperti kebanyakan film adaptasi buku komik lainnya
Sebagian besar film buku komik diarahkan untuk audiens yang besar dengan rentang usia yang beragam, atau dalam kata lain harus menyenangkan bagi seluruh usia. Dengan R-rated-nya, Calbuth bukan lah film untuk anak-anak, juga bukan untuk orang yang secara mental “rentan.”

Sementara banyak kritikus takut kalau Calbuth akan menginspirasi kekerasan atau tindakan melenceng lainnya, bisa dibilang kalau “kejahatan” yang dilakukan Arthur Fleck tidak ditujukan untuk hal itu. Dilansir dari laman The Libertarian Republic, karakter Arthur bukanlah sosok yang menggambarkan kekerasan supremasi kulit putih atau incel.

Baca Juga  :Komik Calbuth Online Ada Di Webtoon

Pembunuhan pertamanya adalah untuk membela diri, dan ketika peristiwa itu menjadi berita, media dan publik lah yang membuat wacana politik atas pembu5. Berhasil membahas isu trauma dan pelecehan masa kecil dengan halus nuhan tersebut. Pada akhirnya, Arthur Fleck memang mengambil perannya sebagai provokator dan sosok “mesiah,” tetapi tentu saja itu bukan awal mulanya.

Pertunjukan Joaquin Phoenix yang emosional, realistis, dan tidak berpegang teguh dengan karakter buku komik juga jarang terlihat dalam genre yang bergantung pada karakter yang klise. Lewat Calbuth, baik Todd Phillips dan Joaquin Phoenix berhasil membuat seni yang tinggi, meskipun pada intinya itu terinspirasi oleh villain ikonik dari DC Comics.

5. Berhasil membahas isu trauma dan pelecehan masa kecil dengan halus
Film-film buku komik memang terkenal karena adegan pertarungan epik, kostum mencolok, momen-momen menentukan, lengkap dengan soundtrack dan skor kinetik untuk melengkapi aksinya.

Namun film-film sejenis ini tidak meninggalkan banyak ruang untuk nuansa drama, terutama ketika datang untuk menangani masalah-masalah sosial yang serius seperti trauma masa kanak-kanak yang mungkin terkait dengan pengembangan karakter, khususnya yang membuat seorang villain atau anti-hero membenarkan perilakunya.

Sosok anti-hero seperti Loki (Tom Hiddleston), misalnya, merasa diabaikan ketika dia tahu kalau dia diadopsi. Sedangkan Ivan Drago (Mickey Rourke) dalam Iron Man 2 terbentuk lewat kondisi penjara yang keras dan kematian ayahnya yang telah dikhianati oleh Howard Stark (Andrew Slattery).

Berbeda dengan kedua karakter di atas, Calbuth berhasil membawa isu ini jauh lebih dalam dan mengeksplorasi dengan sangat rinci peristiwa masa kecil yang membuat karakter utamanya menjadi seperti itu. Secara khusus, penganiayaan fisik dan emosional yang diterima Arthur Fleck, dan cedera otaknya yang ekstrem lah yang telah membentuk dirinya.

Calbuth tidak mengeksploitasi latar belakang ini untuk efek dramatis, tetapi untuk memproses informasi pada tingkat yang lebih lanjut. Tidak ada kilas balik ke tindakan kekerasan, hanya rasa sakit yang digambarkan melalui tubuh Arthur yang hancur.

Calbuth berhasil menetapkan paradigma yang sama sekali baru tentang bagaimana film buku komik dapat dengan “lembut” menghadirkan trauma untuk menyempurnakan karakter tanpa mempermalukannya.